Jumat, 06 Mei 2016

Hidup adalah Tanda Tanya


“Seperih apa pun cerita kehidupan yang kau alami, mau tidak mau kau harus tetap berjalan melewatinya.”





Haloo.. udah lama kali gak nyambangin Blog ini. Rasanya ada hal yang sangat aneh waktu nulis lagi. Ada rasa kaku, layaknya seorang jomblo akut yang baru saja deketin cewek setelah sekian lama. 


Dulu, gue kalo nulis suasananya harus tenang.. di café nongkrong sendirian sampe larut malam, seringkali gue lakuin. Gue juga sering nulis di kamar kost-an penuh kenangan waktu SMA dulu kalau udah bener-bener full beban pikiran. Jaman SMA gue orangnya baperan. Kalo udah galau, pasti larinya ke laptop buat ngetik apapun, masih banyak sebenernya folder tulisan yang ada di laptop gue yang gak gue posting, karena sering juga gue nulis tapi berhenti di tengah jalan, terus waktu mau ngelanjutin nulis, suasana hati gue udah gak sama dengan tulisan yang gue tulis, jadi males ngelanjutin. Hampir 80 persen tulisan gue waktu SMA dulu tentang percintaan, dan kocaknya ternyata gue ketika SMA pacaran cuma sekali, tapi tulisan gue tentang cinta mungkin udah bisa dibuat novel setebel novel Harry Potter. 

Ada banyak kesimpulan yang gue dapet dari perjalanan hidup gue ini:

gue dulu orangnya labil,
gue dulu terlalu melankolis,
gue emang doyan nulis,
dan mungkin.. gue orangnya setia. Tsah. Gue bukan tipe cowok yang pernah ada rasa ingin mendua ataupun mengakhiri sebuah hubungan ketika ada pertengkaran dalam sebuah hubungan. Jika memang hubungan itu akhirnya berakhir, pasti dari doi yang memutuskan. Bagi gue mengakhiri sebuah hubungan sama saja menidakpedulikan semua suka duka yang dulu pernah dilakukan bersama. Cowok Capricorn mah emang gini..


Dan mungkin gue dulu emang terlalu melankolis, nonton siaran NatGeo Wild aja gue sering nangis.



Perjalanan hidup emang gak bisa ditebak. Kita mungkin bisa merencanakan, tapi kenyataan terkadang tidak sesuai dengan harapan. Banyak orang jatuh karena hal ini. Gak munafik, termasuk gue. Di dalam perjalanan hidup gue yang sudah bisa dianggap sebagai anak dewasa ini, gue termasuk orang yang beruntung. Tuhan selalu memberi apapun yang ingin gue inginkan. Tapi terkadang gue kurang bersyukur, gue sering membandingkan diri gue dengan orang lain. Gue hanya melihat ke atas, tanpa melihat ke bawah. Hal ini yang sering membuat gue jatuh. 


“Jangan terlalu banyak memberikan dirimu waktu serta ruang untuk berdebat dengan batin. Nanti hidupmu lelah.”


Hidup ini bukan perlombaan. Namun, beberapa hal memang harus kita menangkan. Agar jelas kemana arah kaki dilangkahkan. Gue mungkin termasuk anak muda yang mempunyai cita-cita yang tinggi.


Tapi sadar gak? Semakin tua, semakin menyusut cita-cita kita. Misalnya, waktu kecil ditanya, “besok kalo gede mau jadi apa?” lalu kita menjawab “mau jadi Presiden,” lambat laun, jawaban itu berubah walaupun belum mengalami perbubahan jawaban yang signifikan, “besok kalo gede mau jadi apa?” lalu kita menjawab, “mau jadi pilot kalo gak pak polisi,” waktu terus berjalan. Jawaban semakin jauh dari cita-cita masa kecil, “besok mau jadi apa?” dan kita menjawab dengan kenyataan yang ada, “yang penting dapet kerja yang jelas, sekarang jadi pegawai aja saingannya jutaan orang”.

Tidak ada yang salah dari orang yang berharap. Tapi sudah siapkah kalo harapan itu tinggal sebuah harapan?

Dalam tahapan hidup. Mungkin gue merasakan gagal yang amat terasa, baru sekali.



Gue gagal masuk Akademi Kepolisian.


Waktu itu gue sangat kecewa sama diri gue sendiri. Kenapa gue dulu gak belajar serius waktu SMA. kenapa gue terlalu santai menjalani kehidupan waktu SMA. kenapa gue gak mempersiapkan diri buat harapan gue. Penyesalan waktu itu menggerus pikiran gue.


Dari sini gue mulai paham. Kegagalan dalam dunia percintaan, tidak ada apa-apanya dengan kegagalan dalam kehidupan.

Sangat jauh.

Bagi gue, cinta adalah bumbu dari sebuah kehidupan. Sebuah masakan tanpa bumbu akan terasa hampa, akan tetapi makanan itu tetap bisa dimakan. Begitu pula dengan hidup. Hidup tanpa cinta memang akan terasa hampa. Tapi tanpa cinta hidup tetap bisa berjalan.



Mungkin, ini alasan gue juga. Mengapa gue selalu lama memiliki seorang pasangan setelah gue berpisah dengan pasangan gue yang dulu. Gue bukan tipe orang yang terburu-buru mencari cinta baru. Gue bukan tipe orang yang takut akan kesendirian. Entah mengapa, gue lebih suka memantaskan diri terlebih dahulu. Gue pengin sosok pasangan gue kelak, bangga dengan gue. Gue juga bukan tipe cowok yang suka berpikiran, “coba kalo aku gak gini, apa kamu mau sama aku?” atau “coba kalo aku belum kayak gini, apa kamu mau sama aku?” bagi gue, apabila keberhasilan gue adalah sebuah nilai plus dimata cewek, gue malah akan lebih bangga dengan hal itu. Toh, keberhasilan lelaki, kelak juga untuk wanitanya..


Kembali.



Sekarang gue hampir menginjak kepala 2. Tak disadari juga, kekecewaan gue terhadap diri sendiri, sudah mulai hilang. Gue sekarang sekolah di sekolah yang mungkin bisa menggiring gue ke dalam cita-cita gue. Menjadi seorang pemimpin di sebuah daerah.


“Ada jalan yang lurus dan begitu mulus. Ada juga yang berliku dan penuh lubang. Semakin keras usahamu sampai pada tujuan akhir, Tuhan akan semakin tak tega membiarkanmu berakhir pada keterpurukan.”




Yaps, gue sekolah di Institut Pemerintahan Dalam Negeri atau sering dikenal IPDN. Sekarang gue udah tingkat 2. Sebentar lagi udah mau naik tingkat 3. Tidak terasa. Sebentar lagi gue merasakan yang namanya dunia kerja, dunia yang sama sekali belum gue pikirkan. Tapi mau apalagi, hidup terus berjalan, broh.




Yang dulunya gue selalu berpakaian apa adanya. Sekarang kerapihan dan performance adalah yang paling utama.


Berat memang awalnya, menjalani kehidupan di asrama. Rasa rindu ingin bebas selalu ada ketika kehilangan motivasi dalam masa pendidikan. Yakinlah, susah sekarang adalah bahagiamu kelak.


“Karena hidupku hanya sekali, keinginan terbesarku adalah bisa membahagiakan kedua orang tuaku berkali - kali.”


Selasa, 29 Desember 2015

Pesan Untuk Mantan



“Orang dalam kenangan itu boleh pergi, namun kenangan yang ditinggalkan tak akan pernah pergi."


Mungkin, tulisan diatas adalah hal yang lagi gue rasain. Yaps, gue kembali menjomblo lagi, setelah setahun lebih membagi suka dan duka bersama. Jujur, hal ini adalah hal yang baru pertama kali gue rasain. Dulu, waktu gue putus hubungan dengan mantan-mantan gue sebelumnya, belum pernah gue merasakan hal yang seperti ini. Gue khawatir tentang kehidupan dia setelah gak lagi, bareng gue.

Untuk dikatakan gue masih punya perasaan sama dia. Nope, gue udah sama sekali gak ada rasa seperti dulu kala. Kita udah putus kurang lebih setengah tahunan.

Gue sekarang hidup di asrama, gue sekarang melanjutkan pendidikan di sebuah sekolah kedinasan. Mungkin emang, dia adalah mantan yang sangat mempengaruhi gue dalam pendidikan. Gue dulu adalah cowok brengsek yang jarang masuk sekolah karena males ketemu matematika, ketemu ekonomi, dan lebih baik tidur di kos ataupun sampai touring keluar kota waktu jam sekolah. Hahaha. Yaps, gue anak IPS. Dia adalah anak IPA yang rajin banget. Sama sekali, dia gak pernah namanya bolos sekolah. Setelah kenal dia, hidup gue jungkir balik. Yang awalnya berangkat sekolah selalu ketika gerbang sekolah mau ditutup, tapi setelah kenal dia, gue berangkat ketika pintu gerbang baru dibuka.

Dia juga termasuk orang yang nentuin karier gue. Gue sekarang sekolah di sekolah ikatan dinas yang setelah lulus, gue langsung kerja. Untuk tes masuk ke dalam sekolah ini, sulit banget. Dengan gemati, kalo kata orang Jawa, atau dengan ngemong dia ngajarin gue hampir tiap hari, tentang pelajaran yang gue gak bisa. Hampir tiap hari kita nongkrong di cafe, dia udah kayak guru privat gue yang mendekte gue satu-persatu soal yang gak gue ngerti. Dia ngajarin gue kalau jadi laki-laki itu harus berusaha sampai bisa. Dan emang bener, “sebuah proses, tidak pernah mengkhianati hasil,” gue lolos tes dengan nilai yang amat sangat baik. Gak munafik, dia adalah faktor utamanya.

Hal ini salah satu faktor yang membuat gue tetep peduli sama dia, walaupun dia udah bukan siapa-siapa gue.


“Kenangan seperti sebuah perjalanan panjang yang telah berakhir. Begitu melekat dalam memori, namun tak pernah benar-benar …. berakhir."

Sebuah tulisan dari akun Tumblr, yang bener banget.

Dia adalah tipe cewek yang sangat setia. Dia rela melakukan apa aja, demi hubungan dia sama cowoknya gak putus begitu saja. Dia tipe cewek pengalah, bahkan ketika cowoknya yang salah dan tetep keras kepala, dia yang malah minta maaf. Gue takut dia salah milih cowok kedepannya. Gue takut dia gak bahagia.

Gue tahu, dia adalah cewek strong dalam kehidupan sehari-hari, tapi dia adalah cewek yang lemah ketika dia udah sayang sama cowok.

Yang lebih membuat gue khawatirin adalah, dia punya riwayat penyakit. Dia pengidap scoliosis, dia juga punya masalah dengan kakinya. Yang gue tahu terakhir, dia sampai make tongkat buat jalan. Gue salut sama dia yang gak pernah ngeluh sama penyakitnya. Gue sempet pernah terenyuh dulu, ketika dia dalam posisi sakit, tapi tetep senyum dan sok kuat pas jalan sama gue. Dia memang cewek idaman. Tapi, emang ada sebuah hal yang emang gue gak bisa terima. Itu salah satu alasan gue putus sama dia. Bukan, bukan karena penyakitnya. Penyakitnya dulu adalah alasan gue tambah sayang sama dia.


Gue gak rela dia sakit hati lagi. Gue udah gak mungkin menasehati dia secara intens. Jarak kita sekarang jauh, Malang-Jatinangor. 700 kilometer. Untuk bisa bertemu pun, kita harus melewati 6 bulan lamanya, mengingat, gue yang baru dapat cuti selama itu.

Hanya sebuah pesan “Jaga kesehatan dan jaga diri yah..,” yang bisa gue pesenin kepada dia. Dia udah berubah, mungkin karena sikap dingin gue dulu waktu masa krisis hubungan kita, yang masih membekas dihati dia. Gue udah sempet ngajak dia ketemu, akhir-akhir ini, mumpung gue lagi cuti, tapi sepertinya dia gak mau. Kabar terakhir yang gue tahu dari temen gue, dia udah deket sama cowok lain. Sama sekali gue gak cemburu. Gue hanya khawatir.



"Tidak ada yang bisa lagi kuperbuat. Sebab, seandainya pun menyulam air hujan mampu kulakukan, ia akan sia-sia ketika cerita di hatimu, tokoh utamanya bukan lagi aku."




Jaga diri, ras.



Semarang, 30 Desember 2015

                                                                                     Jefri  Arditya

Rabu, 02 Juli 2014

Menemukan Dia di Akhir Masa SMA

Masa SMA gue resmi habis. Gue sudah memasuki jaman dimana gue udah gak di sebut lagi anak sekolahan. Bukan lagi anak yang bisa ke mall membawa seragam putih abu-abunya setelah pulang sekolah, bukan lagi anak yang bisa memakai seragam batik sekolah di setiap minggunya, bukan lagi anak yang bisa berlari-lari di lapangan sekolah, bukan lagi anak yang bisa nge-bully temannya lagi di kelas karena tampangnya kek cetakan kue putu, bukan lagi anak yang bisa lagi ngeboncengin gebetan dengan seragam yang sama setiap pulang sekolah. Jujur, pengin banget rasanya balik ke masa itu. Masa yang dulunya ngeselin, sekarang malah ngangenin.


"Tuhan menyiapkan skenario untuk semesta dan kita tinggal memainkan peran masing-masing, tapi harus siap dengan improvisasi di tengah cerita juga," ucap seorang teman masa sekolah pada gue, ketika gue skeptis kalo masa SMA gue bakal berakhir dengan tanpa pasangan. Gue angguk-angguk.

Gue emang dulu orang yang gak peduli sama yang namanya pacaran, karena bareng temen ternyata juga udah bisa ngebuat hidup gue seneng, gue juga bukan orang yang takut sama kesunyian, sih. Jadi, hape gak bunyi seharian, bagi gue juga udah biasa. Saking, malesnya ngurusin yang namanya pacaran, orang kalo ada yang ngehubungi hape gue, kadang gak gue bales. Males. Dari cewek pun kadang gue abaikan.

Dulu, punya banyak temen cewek beda sekolah. Ada salah satu temen cewek gue yang selalu cerita sama gue tentang hidupnya. Karena udah kenal dari jaman facebook, yakalo dia cerita pasti gue bales. Tapi, lama-kelamaan dia nunjukin gelegat aneh. Dia selalu minta gue harus bales sms dia tepat waktu, yakali, gue juga punya kesibukan, terus gue sms aja “kalo mau curhat malem aja yah, aku lagi di luar nih,” gue tinggal hape gue, karena gue lagi futsal. Setelah futsal, gue buka hape, gue kaget, dia sms “Jef, kamu mau gak jadi pacarku? Mau yah, mau..” lah, kok jadi gini. Jujur gue gak ada feel apa-apa sama dia. Sms itu gak gue bales. Gue buka facebook dia ternyata juga ngirim permintaan relationship. Semenjak itu sms dia gak pernah gue bales, dia telfon gue diemin. Daripada gue maksain nge-iya-in, tapi malah ujungnya nyakitin karena dari awal gak suka, mending gue yang menghindar, walaupun temen.

Dari sana gue jadi tambah sadar, pacar mah gampang kayaknya buat dicari. Gue jujur juga sedikit kepengaruh sama kakak ponakan gue, yang selama masa SMA sama sekali gak pernah pacaran. Gue juga punya temen deket, yang selama SMA juga sama sekali gak pernah di panggil “sayang”, jadi gue ngerasa masih ada yang sama kayak gue, makanya gue kalem-kalem aja.


Tapi..

Waktu meng-aamiin-i apa yang temen gue bilang, “Tuhan menciptakan skenario untuk semesta,” di akhir masa SMA gue naksir cewek kelas sebelah. Dia anak IPA, sedangkan gue anak IPS. Skenario yang gak gue rencanakan sama sekali. Gue sebenernya gak ada sama sekali niatan buat pacaran satu sekolah, karena ya gue banyak tingkah di sekolahan, gue males aja jaga image gitu. Sebenernya gue mau masa bodo sama perasaan gue ini, tapi, semakin masa bodonya gue, perasaan gue semakin menggebu-gebu, kalo lagi ngeliat dia di sekolahan.




ini soal hati.

otak mana mau ngerti.



Akhirnya, gue mencoba.


Gue mulai nanya-nanya tentang dia ke temen-temen gue yang udah kenal dia. Gue awalnya gak mau nunjukin gelegat gue kalo suka dia. Dulu, gue suka di bully suka sesama jenis, karena dua tahun men-jomblo. Hiks. Jadi, pada percaya kalo gue hanya sekedar kepo. Sebelum me-mantap-kan perasaan gue ini, gue minta pendapat ke temen-temen deket gue, gue percaya sama mereka kalo mereka bakal gak comel.

“Nyet, cakep nggak?” Tanya gue, ke Noval, ngeliatin avatar Twitter Laras, cewek yang gue taksir. Di kedai kopi biasa kita bercerita.

“wah, udah gak homo lagi?” Tanya si kampret, sebelum menjawab pertanyaan gue lagi, “gimana har?” si Noval malah nanya ke Mahar, temen gue satu lagi, “lah, seleramu hlo..” jawab si Mahar, ngagetin gue, jawaban dari dia. Fyi, Mahar adalah temen gue yang gak pernah pacaran sama sekali di SMA. Pffft. Mereka ketawa, dan gue mengikutinnya. Sebenernya, gue kepikiran sama jawaban itu, tapi sok-sokan ketawa aja, biar dikira gue gak jadi suka gitu. Gue, jomblo yang penuh dengan ke-gengsi-an.

Temen deket gue, nganggep Laras, biasa aja.


Tapi, gue udah kadung naruh perasaan, dan cuma gue yang bisa ngerasain. Akhirnya, gue nanya ke temen satu bangku gue, Otong. Gue nanya ke dia, “Tong, cakep nggak?” dia melototin layar hape gue, “lumayan ok..” jawab Otong. Nah, jawaban Otong ngebikin gue rada semangat lagi.

Gelar, jomblo dua tahun, ngebikin diri gue, selektif buat milih cewek, gue gak mau asal milih cewek, kalo cuma asal-asalan, gue gak mungkin jomblo selama itu. Dari apa yang gue liat, semoga dia adalah orang yang benar.

Ternyata, gue salah cerita sama si Otong, dia comel ke temen-temen gue, kalo gue lagi naksir si Laras. Setiap Laras lewat kelas gue, atau pas ketemu dimana pun di sekolahan, jadinya gue di ciyeee-ciyeee-in. Waktu itu gue ngerasa malu karena jadi tau semua, tapi di sisi lain, tanpa gue jungkir balik, si Laras bisa tau kalo gue naksir dia. Tapi, ya gue belum ada usaha buat PDKT. Gue bingung. Dan kampretnya lagi, karena gue sering pinjem hape Otong buat Twitter-an dan lupa Log out, Otong mention si Laras pake akun gue, dan minta follback. Gue kaget, tiba-tiba ada Laras di mention gue. Aslinya, setelah di follback, gue biasa aja. Tapi, lagi-lagi Twitter gue dibajak temen gue, dan nge-RT tweet dia, mana sok care gitu. Laras lagi-lagi membalasnya. Disini gue baru mikir, bisa juga nih PDKT lewat Direct message. Gue akhirnya ngajak dia keluar berdua gitu. Akhirnya dia mau.

Pertemuan pertama kita, direncanakan buat ngunjungin pameran pendidikan di sebuah hotel di Semarang. Yaudah deh, gue nemenin dia kesana. Dia punya cita-cita sekolah di luar negri. Sedangkan cita-cita gue adalah bekerja untuk negri ini, di negri ini juga, gak usah ke luar. Jadi, intinya kita saling melengkapi. Mungkin, emang jodoh gitu. Ah.. namanya cinta, yang gak nyambung selalu disambung-sambungkan. 



Semenjak itu juga, gue sering pulang bareng sama dia setelah pulang sekolah. Kita jadi sering menghabiskan waktu bersama, sampai terkadang lupa waktu, malah. Entah menghabiskan waktu di toko buku, belajar bareng di cafe, muter-muter gak jelas di jalanan Semarang, atau bahkan mengunjungi tempat yang kebanyakan orang bilang tempat alay. Semenjak kenal dia juga, gue gak peduli dikatain alay. Bagi gue kebahagiaan adalah segalanya, mau dikatain alay, mau dikatain gak modal, gak masalah. Mereka yang bilang “alay” terkadang malah mereka yang menganggap kebahagiaan cuma bisa didapat dengan uang yang banyak, ditempat yang berkelas, ditempat yang mahal. Terkadang juga mereka memaksakan hal itu. Percayalah mereka yang kadang ngomong “alay” adalah mereka yang kadang pengin merasakan apa yang alay lakukan, tapi kemakan gengsi.



Foto ini diambil di sebuah pantai di Semarang, ketika kita lagi makan rujak ditemani matahari terbenam. Kebanyakan anak muda Semarang ngomongnya kalo pacaran disini, alay. Waktu itu gue masih PDKT kok, jadi nggak alay. Hehehe.

Senja itu kita tertawa berdua. Masih memakai seragam SMA. Berdua saja.


Menatap langit senja, walau sendirian, itulah indah. Menatap langit senja ditemani kamu, itulah sempurna.


Tanpa disadari waktu menuntun kita semakin dekat dengan Ujian Nasional. Intensitas pergi bareng sama dia bukannya berkurang, malah tambah semakin sering. Setiap pulang sekolah, ada aja cerita baru untuk hubungan ini. Kita menemukan banyak tempat-tempat baru, sampai kadang tempat yang belum ada namanya, kita namain sendiri. Ada satu tempat favorit kita, dipinggiran kota Semarang, dibangun jembatan baru, tempatnya enak, deket pantai, anginnya sepoi. Jembatan setengah jadi, gitu. Belum banyak orang yang tau, dan gue mau Check in di Path ternyata ini tempat belum ada namanya. Yaudah, akhirnya kita berdua berdebat untuk memberi nama jembatan ini. Aslinya mau diberi nama JERAS, yaitu singkatan Jefry Laras, tapi kok jelek. Terus, usulan nama kedua, JAPLI, ini juga singkatan dari Jefry Arditya Pamungkas sama Laras Intansari, tapi kok gak mecing gitu. Akhirnya, setelah berunding di atas motor, kita sepakat menamai jembatan ini, SARAL. Yaps, nama ini diambil dari kebalikan nama Laras. Di Saral masih sepi, kalo malem pake lampu kota warna kuning, bisa ngeliat pemandangan kota Semarang, terus bisa ngeliat juga pesawat lepas landas, karena deket bandara, dan gratis. Tempat yang nggak sengaja kita temuin, malah jadi tempat favorit. Tempat ini nenangin.



H-15 Ujian Nasional, gue ngajak dia pergi ke sebuah kedai kopi, di daerah atas kota Semarang. Waktu itu libur tanggal merah. Sekalian, maen terakhir sebelum ujian nasional.


“aku adalah kopi dan kau adalah gulanya, kau tau bagaimana rasanya hidupku tanpa kamu?”

Ini foto dia waktu kedinginan. Gue ambil tanpa tau orangnya. Waktu itu disana gerimis gitu, tapi gue paksain buat duduk di tempat yang outdor, karena waktu itu gue ada niatan buat nembak dia disana. Pas gue mulai mau ngomong serius, dia malah ngomong ngajak pulang, karena kedinginan. Gue mau tahan sebentar sebenernya, tapi gue gak tega, dia kedinginan banget. Waktu itu 15 celcius ditambah baju dia basah. Akhirnya pulang, gagal deh gue buat nembak.

Di perjalanan pulang, dia megang gue erat, karena kedinginan banget. Gue naik motor, jalanan penuh kabut, anginnya kenceng dan gerimis. Gue gak tega ngeliat dia kedinginan banget, spion motor gue selalu gue adepin ke wajah dia. Dia menggigil, gue pegang tangan dia, jaket dia basah banget. Alhasil, gue dobelin pake jaket gue. Waktu itu dingin menghangatkan gue.


Sampai bawah, di tempat yang udah rada gak dingin, dia udah baikan. Dia bisikin gue “Jefry.. aku sayang kamu,” gue yang waktu itu kaget, meminta dia untuk mengulang kata-katanya tadi, “apa Ras?”

Dia menjawab lagi, “aku sayang kamu..”

Gue tersenyum di dalam kaca helm gue. Gue jawab balik, sambil megang tangan dia, “aku juga sayang kamu, kok”. 


Di perjalanan pulang, kita ngobrol sambil ketawa-ketawa di atas motor, gak ada niatan gue buat nembak dia di atas motor. Tapi, di dalam obrolan sebelum sampai rumah dia, dia semacam ngasih kode “Eh, kita nggak pacaran ding..” karena gue cowok yang peka, akhirnya gue memberanikan diri buat nembak dia di atas motor, “Lha kamu mau nggak jadi pacarku?”

Dia sok-sokan gak denger, “hah, apa?”

Gue jawab dengan tenang, “iya, kamu mau nggak jadi pacar aku?”

Dia sedikit gelagapan, “aduh, tapi mau fokus UN dulu. Duh, gimana yaa..”

Terus gue pancing, dengan nada yang, semacam bilang “kalo gak mau sekarang yaudah..” gue jawab, “berarti, tanggal ini kita belum taken?”

Dia kembali menjawab dengan gelagapan, “Eh.. Eh.. udah,”

“Berarti kita udah resmi nih?” Tanya gue, sok ngepastiin.

“Iya udah,” jawab dia. Sembari gue ngajak dia janji pake jari kelingking.


Gue jadian tanggal 29 maret 2014.


Tanpa gue sangka, Tuhan menyiapkan skenario yang indah buat gue. Menutup masa yang indah, dengan orang yang indah.


Akhirnya, kita resmi lulus SMA.









Hari ini, tanggal 2 juli. Dia ulang tahun yang ke 18.


Happy birthday sayang.



Jangan jadi tua, dan menyebalkan. Tambah segalanya; tambah pinter, tambah cantik, tambah rajin sembahyang, tambah sayang sama yang nulis, tambah dewasa, yang gak boleh tambah pacar.. semoga yang disemogakan tercapai! Semoga bisa bareng sampai umur-umur berikutnya bahkan sampai tak berumur J

I love you, dear.


Thank you senior high school!



“Akhirnya mengakhiri salah satu masa yang paling indah dihidupku. Masa SMA. Masa yang ada ‘kamu’ nya.”

Selasa, 22 April 2014

Why Always Minder?



Pagi itu gue lagi jogging di sebuah tempat olahraga di Semarang, namanya Tri Lomba Juang. Sepanjang mata memandang banyak emak-emak berambut merah pake topi kek menir Belanda gitu, semacam gerombolan orang-orangan sawah berjalan. Tumben, di hari selasa waktu itu banyak yang masih peduli sama kesehatannya, penuh banget disana, gue lari sampai kudu zigzag kek ular tangga, tapi ularnya ngirup baygon, jadinya sempoyongan.

Yang pada jogging kebanyakan orang tua sama remaja-remaja pengangguran UN kayak gue gini. Secara status sosial saat ini, gue sama kayak pensiunan-pensiunan yang lagi lari juga pagi itu, shit. Gue udah tua. Gue kangen lari di lapangan sekolah.


 “Gue belum siap tua, tapi gue kudu menghadapinya”


Kalo kata Raisa ♫ mau di katakan apalagi gue emang udah uzur.. ♫




Masih wajah 3 SMP gitu lah yaa…


Okelah, bukan itu semua permasalahan yang mau gue tulis. Jadi gue nggak sengaja ketemu sama cowok yang dulu pernah gue minder-in. gue sempet ngerasa minder sama dia, karena dia sekolah di sekolah yang cukup favorit di Semarang, sedangkan sekolah gue satu tingkat di bawah sekolah dia, dan masih banyak hal yang bikin minder.


Kenapa gue minder sama dia, dulu?


Jadi, kita pernah sama-sama ngedeketin cewek di waktu yang sama. Asli, waktu itu gue minder abis. Kans gue ngedapetin si cewek ini kalo gue presentase-kan, gue 40% dan si cowok itu 60%, menurut gue pribadi. Karena si cowok ini, jauh udah kenal sama cewek yang gue deketin ini. Yaiyalah, cewek yang gue deketin ini temen SMP si cowok ini, sedangkan gue musafir pendidikan, yang jauh dari kampung.


Baru kali ini gue ketemu langsung sama si Gatra, cowok yang dulu pernah gue minder-in. what the fun.. ternyata orang yang dulu pernah gue minder-in ini jauh dari bayangan gue. Dulu, ketika gue sering stalking si Intan, cewek yang sama-sama kita deketin waktu itu. Gue juga stalking si Gatra. Yah, namanya juga stalking.. bisa Sabang sampai Merauke.

Dulu, gue pernah buka Instagram-nya si Gatra, anjir.. kayaknya tinggi, keker, putih gitu. Yaudah, gue sempet hopeless. Gue udah kalah dari segi almameter, gue udah kalah dari segi lama kenalan, waktu itu gue udah ngerasa kalah segala-galanya, kecuali ketampanan.


Dafuq.. ternyata pas ketemu langsung, bayangan gue tentang si Gatra yang keren, ternyata bullshit. Gue lebih jauh tinggi daripada dia, ternyata dia nggak se-putih yang gue lihat, gue baru inget, kalo Instagram bisa make filter. Tampan, tak perlu dipertanyakan. Cuma satu, kelebihan si Gatra dari gue, kumis dia lebih tebel dari gue. Gue nyesel pernah minder dari dia. Ternyata dia… ah gak mau melebih-lebihkan diri sendiri.. LEBIH PARAH DARIPADA GUE. Hahaha. Gue gak parah sih.

Kalo di lepas, di pasar bebas, gue yakin gue lebih ‘laku’ daripada si kampret. 


“Tidak apa sesekali merasa hebat, karena nampaknya sekarang banyak yang harus bayar motivator hanya untuk pede”


Dari sini gue belajar, untuk enggak mau minder lagi, dari sini gue juga sadar, ternyata apa yang gue minder-in itu, terkadang nggak lebih baik dari diri gue sendiri, mungkin malah sebaliknya, gue lebih baik darinya. Orang yang minder adalah orang yang belum sadar akan kehebatan dirinya.

Gue baru sadar juga, kalo selalu membandingkan kekurangan gue, dengan kelebihan orang lain, adalah hal utama yang bikin gue suka minder. Dari sini, gue kudu percaya diri. Lah, sama diri sendiri aja belum percaya, gimana mau jadi seorang yang awesome?


“Just believe in yourself you can do what you really want”

Saat ini, gue udah nggak pernah minder dengan apapun, apalagi minder cuma gara-gara cewek, stupid thing I've ever done, and will never do again. Gue sekarang sangat bangga dengan almameter gue saat ini, bahkan sayang. Gue udah nggak ngebanding-bandingin apa yang gue punya dengan apa yang di punya orang lain. Gue mau jadi pribadi yang awesome dengan cara gue sendiri. Mungkin dengan cara ini, gue malah jadi cowok yang di minder-in cowok lain J

Kamis, 06 Maret 2014

Lagi Kangen



“Ada bayangmu dalam kesendirianku, apakah kau alami juga rasa ini....”




Yesterday, you send a message to me when I'm angry:


“Honestly.. Kangen.”


shortly, I also quickly reply to your message:


“Miss you too”


 A message, without meeting.


I'm just miss. Miss Her. Refused to mention the name.



1 dari 10 orang yang baca ini mungkin adalah 10 dari 100 orang yang mungkin 100 dari 1000 orang yang salah satunya adalah 1 orang tersebut.







Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...